Powered by Blogger.

World Read Aloud Day 2015: Literasi dalam Interaksi

Ketika kita mendengar kata ‘read aloud’, hal pertama yang dipikirkan kemungkinan adalah sekelompok siswa yang membaca bersama di sebuah kelas. Namun, mari kita pikirkan kembali.... kapan terakhir kali kita read aloud?

World Read Aloud Day dirayakan setiap Rabu pertama di bulan Maret. Pada tahun ini, harinya jatuh pada tanggal 4 Maret. Gerak Cepat bersama Koran Berani ikut merayakan World Read Aloud Day bersama dengan jutaan siswa, pendidik, dan orang tua di 80 negara lainnya. Hari ini, kami berkunjung ke tiga titik di Jakarta Timur untuk membaca keras dan merefleksikan kembali dampak literasi pada kehidupan kita sehari-hari.


                              
Ada banyak manfaat dari membaca keras dan lantang. Hal itulah yang mendasari adanya perayaan World Read Aloud Day. Tanpa disadari, dewasa juga sering membaca dengan keras, agar materi yang mereka baca dapat dicerna dengan lebih mudah. Salah satu tujuan dari siswa membaca keras bersama di sebuah kelas juga untuk meningkatkan pemahaman. Dengan melafalkan informasi yang kita baca, secara otomatis, otak kita akan memproses informasi itu dengan lebih cepat. Email terkait pekerjaan, makalah ilmiah, atau sebuah artikel di surat kabar merupakan beberapa contoh bahan baca yang sering dibaca keras oleh segala usia.

Selain itu, kita juga berinteraksi dengan lingkungan sekitar melalui kegiatan membaca keras. Dengan adanya elemen audio berupa suara, mau tidak mau, kita akan mempengaruhi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Dalam konteks kelas, membaca keras dapat dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan akan literasi di dalam sebuah lingkungan. Misalnya, bonding antar siswa dan guru dapat tercipta dan semakin terasah melalui sebuah kegiatan bersama, dalam hal ini adalah kegiatan membaca bersama. Interaksi membaca itu juga berperan dalam membantu satu sama lain untuk memahami sebuah konsep. Dengan membaca keras, sesama individu, dewasa maupun anak, dapat saling bekerjasama untuk mencerna makna dari subjek yang dirasa sulit.

Tentu kegiatan membaca keras tidak terlimitasi pada materi bacaan yang sulit saja. Banyak komunitas dan kelas yang merayakan World Read Aloud Day untuk mengingat kembali betapa pentingnya literasi, dalam arti kemampuan membaca, menulis, dan memahami, dalam kehidupan sehari-hari. Jargon literasi semakin marak di jaman ini, seperti moral literacy, dimana individu diharapkan memiliki fondasi karakter yang kuat. Ada juga financial literacy, yang berarti pemahaman dan kemampuan untuk mengolah keuangan pribadi. Globalisasi dan standar kehidupan yang semakin baik menuntut manusia untuk semakin mawas dan mumpuni, dan literasi merupakan dasar dari karakter dan kompetensi yang diperlukan pada zaman ini.

Semangat inilah yang ingin kami bawa ke ruang kelas, ruang umum, maupun one-on-one interaksi antar individu – semangat bahwa bangsa Indonesia pun tidak kalah dengan bangsa lainnya, dan bahwa generasi muda Indonesia juga siap menyongsong tren perkembangan dunia. Tertarik berdiskusi? Tweet idemu melalui #aksibaca dan #wrad2015!

Salam Gerak Cepat,

Amanda Witdarmono

KPK & POLRI. Kita harus bela siapa?


Akhir-akhir ini banyak yang menanyakan mengenai apa respon GerakCepat menanggapi isu KPK vs POLRI yang ada saat ini. Ada yang mengirimkan pesan langsung, melalui email, social media, bahkan ada yang menanyakan secara pribadi kepada saya.

Biasanya respon saya adalah dengan menanyakan kembali, “mau dengar pendapat pribadi saya? Atau pendapat GerakCepat?”.
Lalu mereka bertanya lagi, “Apa bedanya?”, maka saya jawab “Pendapat pribadi saya bukan berarti mewakili GerakCepat sebagai organisasi, begitu juga dengan pendapat GerakCepat sebagai organisasi bukan mewakili suara Presiden Jokowi, karena pemilu sudah selesai”.

Namun pagi ini, saya ingin mengajak teman-teman di seluruh Indonesia untuk sejenak berpikir apakah tindakan yang paling tepat untuk menyikapi polemik antara KPK dan POLRI belakangan ini. Mungkin yang paling tepat adalah dengan memberikan dukungan sebisanya kepada salah satu institusi dan memojokkan yang satunya, atau memberikan dukungan kepada keduanya, atau juga memojokkan kedua institusi negara tersebut, atau juga dengan menyalahkan Presiden kita atas hal ini.



Baik KPK dan POLRI memiliki peran yang sangat penting di dalam negeri ini, bayangkan kalau tidak ada polisi, apa yang terjadi kalau negara sedang mengalami kerusuhan parah?
Begitu juga apabila tidak ada KPK, mungkin korupsi akan merajalela dan tidak ada yang bisa menyaring lagi kualitas pejabat yang bersih dan baik.
Apalagi jika justru tidak ada Presiden sebagai kepala negara, tentunya negara ini tidak akan berfungsi dan tidak terpimpin.

Tugas kita disini sebagai rakyat yang cerdas dalam berpikir adalah melihat pokok masalah dari sudut pandang makro dan mikro, berpikir positif dan memberikan dukungan dengan hal yang sepositif mungkin. Melalui petisi online, merupakan cara yang juga efektif. Memberikan dukungan kepada Presiden kita dan percaya bahwa beliau sebagai kepala negara tentunya akan mengambil keputusan yang bijak dan mementingkan rakyatnya.

Seperti kata Pak Jokowi dalam status Facebooknya, “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”, yang artinya “Semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia akan sirna dengan sifat lembut, kasih sayang yang didasari dengan manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Let’s be positive, open our mind, heart & will! And check out this link: https://www.youtube.com/watch?v=hC9NsolF99g&feature=youtu.be

Selamat beraktifitas!

Salam,
Chaerany Putri



Memories Live On


I remember my friends and I were having post-Christmas brunch at our Chinese restaurant on December 26, 2004 when one of our friends who worked for The Guardian got a very urgent call. As he was leaving he just said a natural disaster struck Aceh. We didn’t pay much attention to the news as Aceh at the time was still a closed region under heavy-handed control of the military due to conflict between Aceh Freedom Movement (GAM) and Indonesian Government. Only a couple of days later I learned about the devastating disaster in Aceh. My eyes were glued to the TV, flipping from channel to channel trying to find out more about the damage and fatalities and found that not much information were available.
Then I started to see communities (e.g. students, NGOs, religious groups) collecting donations for Aceh. They even went to the streets and stood by the traffic lights. I remember cried silently watching the news and told God in my prayers that I’d like to help. Mind you, I have never worked on a post natural disaster of any kind except my own silly personal disasters.
Well, God knows me too well that I am a bawler – I don’t think I would survive working there during emergency phase. So opportunity related to tsunami came to me to work from Jakarta. A good friend who was Country Director of Project Concern International (PCI) Indonesia at the time, hired me to help coordinate between his colleagues delivering emergency relief assistance and PCI’s head office in San Diego. I concluded my work with PCI as soon as they established their office in Banda Aceh. I am still in touch with those I worked with during that period.
Only after the emergency phase was done – after Banda Aceh was cleaned up – then another offer came to me to work in Aceh for four years as a consultant seconded to an ad hoc government agency called BRR Aceh-Nias. So I went to Aceh through a USAID-funded project managed by Chemonics Inc. called A-TARP. Thanks to USAID for granting the Head of BRR’s request to fund me beyond their A-TARP life time, I ended up working through the end of BRR’s end of mandate.  On April 16, 2009 President Yudhoyono dismissed BRR at the Palace in front of the ambassadors of donor countries and heads of development agencies as well as select heads of local and international NGOs.
What did I take from that experience? Here are some of the invaluable lessons I learned:
- Leadership is key to success, especially in managing billions of dollars of reconstruction funding. Kuntoro Mangkusubroto was one inspiring leader back then and still is until now.
- Kuntoro once told me to trust people until they prove us wrong. That way you can start building a new team. It was proven that many came to the challenge and excelled in what they did at BRR.
- No one was an expert when a disaster like 2004 tsunami struck. In fact, no one is an expert when a disaster strikes in another area other than the place where you worked before.
- Coordination is an excellent buzzword but surely expensive and most of the time inefficient and ineffective. Besides, many organizations are defensively reluctant to be coordinated by the host government.
- Bilateral development agencies are run by bureaucrats. So, manage your expectations as things may not go as quickly as you believe it should have been.
- Multilateral develop agencies are too big to move faster and they are as bureaucratic as normal government agencies.
- NGOs manage projects that are funded by bilateral or multilateral agencies who are run by bureaucrats and inflexible bureaucracy. So, go figure.
- Some NGOs will come with staff/workers/volunteers with little or no-experience. So, things may get messier. Be prepared.
- Some people will come ready to blame the host government for things that don’t work, forgetting that they work in a post-disaster area where things will not work normally. Most of them have never worked with their own government who may be as bureaucratic (or incompetent) as the host government if not even more so.
- Some people who come to a post-disaster area from a conflict region or another post-disaster work, would think it’s like playing Lego where they can come in with a project blueprint – that may be considered or may not be proven successful – from another country to be implemented where they go. Then they get upset when their proposal didn’t get buy in from the host government. Funny how they seem to forget that the other country is not this country. Iraq is not Indonesia. Pakistan is not Aceh. Even if you have worked in Jogja for a long time, it’s still not Aceh. Just like Utah is not the same as New York, Papua is not Papua New Guinea, and India is surely not Bangladesh.
- Politics are everywhere. It’s between the UN agencies, donor agencies, NGOs, multilateral development agencies, host government and donors, local governments and ministries, even between the former GAM combatants. BRR was in the center of it all. It’s something you have to live with and master in handling it.


Well, those are just my personal lessons learned. If you are interested to read the lessons learned documentations from Aceh experience, drop me a line through Contact page and I will share with you the link to download the e-books compiled by BRR. I surely cannot expect people to learn from the tsunami lessons learned books/reports/papers so that they don’t make the same mistakes and put to practice what worked well in Aceh. But I should expect from myself not to forget what I learned from my time in Aceh and refer to it as often as appropriate.


Maggy Horhoruw
Public policy & management consultant; photographer.

The Season of Reflection and Gladness


Christmas.
For us Christians, conventionally it is described as the birth of Jesus Christ whom they believe to be the centered of hope in times of sorrow and the very reason any kind of happiness occurs. Realistically, Christmas to us means a yearly family tradition, an absolute reason for church, the time to sink in the year's blessings while 'Silent Night' is being sung at its eve, and endless family gatherings. For the non Christians, it is simply the holiday season. The time when Christmas tree is up and beautifully decorated, 'Santa Clause is Coming to Town' and 'Joy to the World' continuously being played at each corners, year-end discounts, and the jolly feeling of Christmas is just around.
But, what then has made Christmas to be universally knows as 'the season to be jolly'? - It is the season when day by day one is being naturally pulled to reflect on the years that gone by and be glad that every triumphs, failures, and setbacks had happened while celebrating all the choices that brought one to his or her present state. Most importantly, it is a reminder to practice love – one value that is hold dearly by the five religions acknowledged by this beloved country of ours Indonesia. 'Don't just pretend to love others. Really love them. Hate what is wrong. Hold tightly to what is good' (Romans 12:9). Christmas should bring the spirit of forgiving, humbleness, togetherness, and sharing of joy – the spirit that still needs to be greatly promoted and portrayed among people of this nation that supposedly promote pluralism, religious tolerance, and harmony.
The spirit of Christmas reminds all of us to love generously and to 'always be humble and gentle, be patient with each other, making allowance for each other's faults because of your love' (Ephesians 4:2). So, Christmas should not only be a yearly reminder to reflect that we are here for something besides ourselves and be glad about our lives, but let it be the time to practice its spirit more and more throughout the year so that the message behind Christmas can become people's life lessons. In the end, Christmas should not be the season to be jolly. It should not remain as a 'season', it is not December 25th, it is not Christian's annual celebration, it is not about the mistletoe, presents, and cakes – Christmas is a state of mind that should make the whole world to be engaged in a manifestation of love.

Merry Christmas and Happy New Year 2015 dear ones!

Christie Adelheid Kanter
Christie Kanter adalah seorang wanita dengan passion kuat dan kesenangan dalam menulis. Ia lulus dengan jurusan Corporate Communications dan Public Relations dari Drexel University, Philadelphia, USA. Saat ini Christie bekerja sebagai Director of Communications di Swiss German University dan dalam proses menulis buku keduanya. Ia memiliki pengalaman bekerja di perusahaan PR global dengan klien – klien yang beragam, menyisihkan waktunya untuk melakukan pekerjaan sukarela di Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC), menyediakan waktunya untuk menjadi guru sekolah Minggu di gereja setempat dan selalu berusaha untuk mempraktekan passion dalam menulis di semua pekerjaannya. Blognya www.christiekanter.com merupakan permulaan dimana ia menemukan passion dan talentanya. Glancing Through Life merupakan buku terbitan pertamanya yang terinspirasi oleh pengalamannya sendiri dan pengamatannya tentang kehidupan, melalui buku ini Ia ingin membuktikan bahwa passion yang kuat dapat menginspirasi dan membawa perbedaan dalam hidup.

Anakku, Bidadari Kecilku, Guru Kehidupanku


Selama ini yang kita ketahui Ibu adalah guru terbaik bagi anaknya, tapi tahukah kalian bahwa seorang anak pun dapat menjadi guru bagi Ibunya? Aku ingin bercerita mengenai pengalamanku. Bulan November lalu pernahkah kalian mendengar berita mengenai anak balita yang menderita neuroblastoma? Ya, dialah putriku Ashira Shalva Riko yang biasa dipanggil Ashira/Non. Setelah kepergiannya baru aku sadari bahwa ia telah mengajariku berbagai hal dalam hidup ini, semenjak ia dalam kandungan hingga akhirnya ia harus lebih dulu pergi meninggalkanku.
Masih teringat jelas semua kenangan yang aku lewati bersamanya. Saat kandunganku berumur 3 bulan aku mengalami pendarahan karena kecapekan hingga harus dirawat di rumah sakit, bed rest hampir 1 bulan lamanya. Kehamilanku bertambah besar, sehat, dan tidak ada masalah. Tak terasa akhirnya putriku lahir ke dunia ini dengan persalinan normal tanpa aku harus mengalami kontraksi yang memakan waktu lama. Bahagia rasanya dikaruniai putri kecil yang sehat dan cantik, hari-hariku terasa lengkap dengan kehadirannya. Aku adalah seorang Ibu bekerja, perjuangan memberi ASI eksklusif  bisa aku lewati selama 8 bulan. Weekend atau hari libur lainnya selalu kami sekeluarga nantikan karena bisa berkumpul melepas kangen setelah beberapa hari bekerja.

Perkembangannya begitu pesat, ia tumbuh menjadi gadis kecil yang riang, senyumannya, ocehan, bahkan tangisannya memberi warna tersendiri dalam kehidupanku. Di usianya yang berumur 2 tahun aku dan suami berkomunikasi dengan Ashira layaknya berbicara dengan anak umur 4 tahun. Kami memasukkan Ashira ke sekolah agar ia bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan dapat menuangkan kreativitas yang dimilikinya. Ashira jarang sekali mengeluh, menangis tanpa sebab ataupun rewel. Tak pernah sekalipun terbersit di hati bahwa anakku menderita penyakit Neuroblastoma, yaitu kanker pada sistem  syaraf yang sering ditemukan  pada anak usia balita.

Beberapa bulan terakhir sebelum kepergiannya Ashira sering mengalami batuk, pilek, demam sama seperti yang dialami anak lain pada umumnya tanpa gejala yang signifikan. Sampai pada akhirnya perut terasa kembung dan keras hingga aku membawanya ke dokter ahli pencernaan anak. Serangkaian tes harus dijalani untuk mendiagnosa penyakit apa yang dideritanya. Aku bertekad apapun yang terjadi kepada Ashira, aku akan menemani dan selalu berada di sampingnya selama masa pengobatan sampai Ashira dinyatakan sembuh.
Pada akhirnya, karena satu dan lain hal kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Guangzhou Cina untuk melanjutkan pengobatan. Kami ditangani oleh tim profesional yang memiliki empati luar biasa. Segala upaya telah dilakukan untuk kesembuhan Ashira, berbagai alat medis berada di tubuh putriku. Tidak kulihat lagi Ashira yang riang, Ia lebih banyak terdiam karena menahan rasa sakit. Pasti ia tidak ingin membuat orang tuanya bersedih, bahkan beberapa hari sebelum kepergiannya respon Ashira sangatlah baik. Ia mau makan, aku dan suami bahagia sekali dengan responnya yang ingin menonton video favoritnya di iPad. Semua akan kulakukan memberikan yang terbaik untuk kebahagian dan kesembuhannya.

Sahabat-sahabatku membuat gerakan di social media seperti Path, Instagram, Twitter, juga email atas nama prayforashira. Begitu besar empati dari masyarakat, karena banyak orang yang tidak kukenal memberi support dan bantuan yang tidak pernah kuduga. Support yang datang membuatku semakin kuat, optimis, dan merasa tidak sendiri menghadapi cobaan ini.  Setiap melihat wajahnya, ingin rasanya aku menggantikannya menderita rasa sakit. Tatapan mata indahnya selalu menguatkanku, betapa ikhlas dan kuatnya ia menanggung penderitaannya. Keadaan fisiknya semakin memburuk, segala upaya terbaik sudah dilakukan agar anakku tetap bertahan hidup. Ia ingin selalu digendong dan berada di dekatku, disitulah aku merasa ikatan batin antara Ibu dan anak sangatlah kuat.
Pernah aku merasa kenapa aku yang dipilih Allah untuk menerima cobaan berat ini? Banyak para Ibu di luar sana yang tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, tapi kenapa harus aku yang dipilih? Aku tersadar bahwa Allah tidak akan pernah memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya. Ikhlas, hanya rasa itu yang aku punya. Malam itu aku harus menghadapi kenyataan yang luar biasa beratnya, Allah berkehendak lain. Aku harus merelakan putriku Ashira dipanggil Sang Pencipta sampai pada akhirnya aku mengucap Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Aku memeluk dan menciumnya dengan derasnya air mata, menyentuh pipinya dengan tangan gemetar.
Aku tersadar bahwa anak adalah titipan Sang Pencipta. Aku sangat menyayanginya tapi Allah lebih menyayangi Ashira, menginginkannya untuk sembuh dari rasa sakit dan tidak menderita lagi. Kini ia bahagia bersama bidadari surga lainnya. Kepergian anakku memberikan banyak pelajaran dan pesan berharga, mengajariku untuk sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Tolong menolong terhadap sesama juga hikmah yang aku dapat dari kepergiannya. Kalian yang lebih beruntung dariku dapat berkumpul bersama anakmu, sayangilah mereka dengan tulus karena hanya kebersamaan, perhatian, dan cinta tulus seorang Ibu yang anak kita butuhkan. Jadikan mereka apa adanya. Penggalan syair Anak-Anakmu dari Kahlil Gibran ini sangat menginspirasiku

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Terima kasih Allah telah menganugerahkan, mempercayaiku untuk mengasuh dan merawat Ashira walaupun hanya 2 tahun 4 bulan lamanya masa indah bersama. Mama yakin suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali Non. Doakan orang tuamu agar selalu kuat dan tabah menjalani hidup kedepan, begitupula kami akan selalu mendoakan dan mengenangmu.  Selamat jalan anakku Ashira Shalva Riko, bidadari kecilku guru kehidupanku.

Selamat hari Ibu untuk semua Ibu hebat di seluruh Indonesia.

Salam,

Reivina Raymond

Kesahajaan Hak Asasi Manusia




Ada banyak orang yang menganggap persoalan Hak Asasi Manusia adalah persoalan yang berat, serius, dan sensitif. Ini sebenarnya hanya soal persepsi dan motivasi.
Bagi yang selalu merasa “asing” pada hal yang bukan dari diri atau lingkungannya, tentu akan selalu sulit merefleksikannya, apalagi menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. Sebaliknya, untuk yang selalu siap sedia membuka pemahaman, justru HAM adalah sesuatu yang sangat familiar.
Jika kamu masih sulit memahami HAM yang hadir dalam bentuk pengetahuan, cobalah merasakannya dengan hati. Perhatikan dan resapi mereka yang tengah memperjuangkan HAM. Tempatkan dirimu dalam diri para keluarga korban pelanggaran HAM. Untuk bisa put in their shoes, kamu harus memaksa dirimu keluar atau sekaligus menghancurkan sekat perbedaan.
Di ruangan itu, hanya kamu dan dia. Tidak ada embel-embel. Kamu, dia, sama-sama manusia.
Lalu, tiba-tiba saja kamu mengerti apa itu HAM.
Saat kamu merasa nyeri dan tak tahan lagi menggenggam sebuah es batu, kamu mendadak merasakan (sedikit) yang dirasakan para korban penculikan aktivis 1998 yang harus tidur diatas balok es. Saat kamu merasakan mual, muntah, dan diare atau pernah merasakan keracunan makanan, tiba-tiba kamu terbayang almarhum Munir, yang merangkak diantara kursi penumpang Garuda GA 974 karena racun arsenik yang kabarnya sanggup membunuh seekor gajah.
Kamu pun langsung mengerti dan setuju mengapa harga barang yang dijual di malam hari lebih mahal ketimbang dijual siang hari: karena harus membayar upah pekerja yang lembur. Setiba di rumah, kamu langsung membuat peraturan baru pada pembantu rumah tangga: batasi waktu kerja, meliburkannya pada hari non kerja dan memberi upah lembur.
Kesukarelaan membangun peradaban yang menjunjung tinggi kemanusiaan dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Jika kamu tidak senang diperlakukan dengan cara tertentu, maka hindarilah dan jauhkanlah untuk menirunya.
Ketika kamu kecewa karena tak sempat beribadah oleh karena terhalang kesibukan, coba bayangkan kesedihan orang-orang yang tengah dihalang-halangi untuk melakukan ibadah. Saat kamu sebal karena orang merendahkan keimananmu, coba bayangkan mereka yang divonis sesat.
Kesediaan untuk bercermin pada masalah orang lain inilah yang akan membantu kamu menjadi rendah hati. Kerendahan hati ini tidak akan membuatmu menjadi “bukan siapa-siapa”, justru sebaliknya membesarkanmu menjadi “seseorang”. Kamu bisa melihat masalah yang orang lain tak sadari. Kamu dapat menemukan jalan keluar yang terang ditengah kegelapan hati. Kamu sanggup mencium busuknya rencana kotor yang belum terjadi.
Saat itu terjadi pada dirimu, kamu tidak bingung membedakan mana yang harus dipindah-paksa, mana yang harus diusir dan mana yang harus dilestarikan. Kamu berhenti berdebat soal kenaikan BBM dan segera menyusun rencana yang lebih jauh untuk beralih untuk meninggalkan energi fosil yang beracun.
Kemanusiaan membuat kamu utuh sebagai manusia. Kamu bukan sekarung hasrat dan nafsu belaka. Kamu adalah sungai cinta, lautan kasih, dan cahaya peduli.
Tapi ingat, seperti John teman saya bilang. HAM tidak gratis seperti oksigen. Sejarah HAM adalah sejarah perjuangan. HAM bukan hanya ada atau berhenti sampai di undang-undang, aturan dan susila. Dari Muhammad sampai dengan Gandhi, Bunda Teresa, Mandela, Munir dan Anis Hidayah (Penerima Yap Thiam Hien 2014). HAM hanya ada jika kita memperjuangkannya, meributkannya dan mengamalkannya.
Cuma kamu yang bisa buat HAM itu ada dan eksis.      
Selamat Hari HAM, Kawan!


Wanda Hamidah
Seorang politisi dan aktivis sosial.

Tahukah Kamu Isi 30 Butir Deklarasi HAM PBB?

Sebuah kabar yang kurang baik bagi kita semua bahwa Indonesia dilaporkan mengalamin kemunduran dalam bidangg kebebasan sosial dan Hak Asasi Manusia. Menurut Freedom House, Indonesia turun dari peringkat 3 ke peringkat 4. Status Indonesia pun turun dari Bebas ke Agak Bebas dengan penerapan hukum yang membatasi dan meningkatkan birokrasi pengawasan LSM. Selain itu, marak juga terjadi berbagai konflik mengatasnamakan agama, konflik agraria, dan belum tuntasnya kasus HAM di masa lalu.
Pada 10 Desember 1948, Deklarasi Hak Asasi Manusia dicetuskan untuk memperbaiki masalah HAM dan mewujudkan perdamaian dunia. Di Indonesia sendiri, HAM adalah isu yang terus-menerus terdengar, tetapi apakah kita sebagai masyarakat sudah mengetahui apa saja hak asasi manusia yang harus dihormati dan diwujudkan? Jangan sampai kita menjadi pelanggar HAM itu sendiri.
Simak di infografi ini: